Kafaakum bil mauti waa’idun — Cukuplah kematian sebagai pengingat mu (Umar bin khattab)

Kematian, tak ada yang mampu memahami rahasia di baliknya. Ia masuk kesekian rahasia Allah yang tersembunyi di balik tabir gaib. Termasuk rahasia alam ruh, alam kubur dan alam rahim.

Meninggal dunia, mungkin telah menjadi suatu kepastian yang tak terbantahkan bagi setiap mahluk yang bernyawa. Ia pasti datang. Pasti!! Tinggal kemudian adalah bagaimana keadaan akhirnya tersebut.

Hari ini (30/5) Abah menerima kabar kematian seorang teman, suami dari relawan DSIM, Indah. Sungguh tragis kisah kematiannya yang sampai ke telinga Abah. Bukan karena sakit, bukan pula karena kecelakaan. Tapi ‘karena’ yang lain.

Ashabul kisah, berdasarkan sanad yang layak dipercaya. Hari itu Sabtu (28/5) sore, suami Indah disuruh untuk menengok rumah mertuanya di daerah Komperta, Plaju. Kebetulan rumah itu tengah kosong, rencananya sang suami akan menunggui malam itu. Dan sore itu maksudnya mungkin untuk sekedar menengok dan menghidupkan lampu rumah.

Ketika tiba di lokasi, sekitar pukul 16.30, mereka berdua tiba di depan rumah mertuanya tersebut. Betapa kagetnya setelah mereka lihat ada beberapa motor yang parkir di depan rumah. Mereka berdua langsung curiga. Mereka mengelilingi rumah, dan tampak gembok rumah sudah hancur dibobol. Sedangkan pintu sudah terbuka sedikit.

Indah yang merasakan gelagat aneh, “Kak, idak usah masuk ke dalam”. Melarang suaminya melihat. Entah mengapa, sang suami tetap masuk sementara Indah gelisah menunggu di luar. Di dalam, ada tiga orang asing (menurut cerita yang lain hanya dua orang). Mereka sama-sama kaget.

Karena panik, para pelaku segera menghujamkan pisau yang mereka pegang ke perut sang suami. Tanpa perlawanan berarti akhirnya, sang suami roboh. Sedangkan para pelaku yang tak ingin ketahuan, segera melarikan diri dan sempat mengejar Indah yang berdiri di tak jauh dari sepeda motornya. Beruntung Indah tak mendapat cidera apa-apa. Cuma motor mereka ikut dilarikan oleh perampok.

Indah berteriak panik dan histeris, melihat suaminya telah bersimbah darah. Teriakan minta tolong Indah tak membantu tetangga untuk datang lebih cepat. Sang suami akhirnya meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit…

Kematian datang begitu cepat. Tak sempat memberi isyarat sedikitpun…

Abah kecut mendengarnya, mendengar kematiannya, lebih-lebih lagi mendengar dan membayangkan bagaimana akhir kematiannya. Banyak yang menyayangkan sikap gegabah sang suami saat itu. Andai, ia tidak usah masuk. Andai ia menuruti permintaan istrinya. Andai..

***

Sebelumnya juga Abah menerima kabar kematian seorang sahabat tercinta. Hari Jumat (27/5) pukul 14.00, seorang teman mengabarkan kematian Syahri Gunawan di usianya yang baru 25 tahunan. Sedih, sangat sedih. Kematian sahabat dekat membuat badan ini meriang, membayangkan bagaimana ia menghadapi sakaratul maut, bagaimana ia diantarkan ke liang lahat, bagaimana nanti bila ia ditanya oleh Munkar dan Nangkir?

Sederet pertanyaan menggantung di benak Abah. Allah mudahkanlah urusannya untuk menghadap-Mu..

Terakhir Abah bersama Gun (biasa ia dipanggil) saat hari terakhir bekerja di Beritapagi, 31 Januari lalu. Dan tak lama sesudah Abah keluar, teman-teman memberi kabar, Gun divonis kanker usus. Innalillahi..

Tak banyak Abah bisa perbuat, selain mendoakannya diam-diam di penghujung shalat dan memberi support melalui wall Facebook-nya. Kurang lebih tiga bulan ia tanggung penyakit tersebut. Penyakit yang sama, yang pernah merenggut nyawa almarhum ibunya beberapa tahun sebelumnya.

Mulanya ia sering mengalami sakit di bagian perutnya. Oleh pihak keluarga ia diperiksakan ke RS Charitas. Semula ia didiagnosa mengalami infeksi usus (flu usus) setelah dirawat satu minggu ia diperbolehkan pulang dan kontrol beberapa hari sekali.

Namun, tak lama perutnya kembali sakit dan akhirnya dibawa ke RSMH. Ditemukan cairan dalam jumlah banyak dalam perutnya. Segera setelah dilakukan serangkaian tes dan observasi, Gun dinyatakan terkena kanker usus, dan sebagain sel kanker sudah menyebar ke bagian tubuh yang lain. Keluarga Gun pun ditawari untuk di kemoterapi. Satu-satunya tindakan penyembuhan bagi penyakit kanker secara medis. Walau mungkin ada terapi lain, seperti bilang seorang teman. Di Singapura sudah ada penanganan kanker tanpa perlu kemoterapi. Namun biayanya bisa tembus ratusan juta rupiah! Ternyata kalau sudah sakit, sehat menjadi mahal!

Terkait dengan usulan kemoterapi tadi, pihak keluarga seperti keberatan. Mungkin trauma dengan penanganan yang sama terhadap ibunya Gun.

Akhirnya pihak keluarga membawa Gun pulang. Mencoba pengobatan alternatif dan mencari second opinion dari dokter yang lain. Selama lebih dari dua bulan masa pengobatan alternatif jauh hingga ke Bangka, kesehatannya justru merosot. Badannya benar-benar tinggal tulang. Mata cekung dengan perut besar. Alih-alih mendapatkan pendapat yang berbeda, dokter-dokter lain yang dikunjungi justru menguatkan hasil uji Lab, dan memang kemoterapi sebagai satu-satunya cara pengobatan untuknya.

Apalagi, dokter RSMH pertama yang memeriksa Gun dan menyatakan positif kanker justru dokter senior. Sedangkan second opinion yang dilakukan oleh keluarga Gun tadi terhadap dokter-dokter junior yang masih berkonsultasi pula dengan dokter senior tadi..

Akhirnya, setelah lebih dari dua bulan badannya memberikan perlawanan, sampai pulalah batas perlawanan itu.

Andai, keluarga Gun masih mau  mendengarkan nasihat dokter yang pertama untuk melakukan kemoterapi, andai tindakan yang diberikan tidak terlambat. Andai..

Abah diam dan mencoba mengail hikmah. Kematian tetap menjadi rahasia. Kita yang hidup tidak dapat merasakannya. Dan setelah kita sendiri merasakannya, maka kita tidak akan dapat menceritakannya lagi.

Pengandaian hanyalah keluhan kasar dari lisan anak manusia. Kematian itu pasti. Daun namanya telah jatuh di lauhul mahfuz. Tinggal bagaimana akhir episode hidupnya menjelma sebagai husnul khatimah ataukah suul khatimah. Kematian tetap akan menjadi rahasia, tak peduli seberapa majunya teknologi kedokteran saat ini. Tak peduli sejauh mana eksplorasi anak manusia di batas jagat raya.

Ingatlah ukiran kalimat bijak di cincin Umar bin Khattab ra,

“Cukuplah kematian sebagai pengingatmu, Hai Umar!”

http://www.indowebster.com/embed.php?key=Haddad_Alwi_Indstrumentalia_doakuwidth=

Apa kabar Abah? Sudah lama tidak buat tulisan?

Begitu tanya bathin Abah sendiri malam itu. Walau mata sudah terasa kantuk, menunggu air bersih mengucur dari saringan, Abah sempatkan membuat tulisan ini. Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane. Mumpung masih ada ide di kepala yang bisa dituliskan.

Alhamdulillah, baik. Masih buat tulisan. Tapi tidak di blog ini.

Abah sekarang lagi asyik bermain Twitter. Berkicau bak burung pipit di ranting pohon. Abah mulai akrab dengan istilah mention, follow, retweet, tanda @, hashtag #, dan istilah-istilah verbal lain yang sering digunakan oleh para tweaps.

Sebenarnya sudah lama punya akun Twitter ini, seperti juga teman-teman Abah yang lain. Cuma yang menjadi penyebab bangkitnya rasa ingin tahu bercuit-cuit via mikroblog ini, yaaa.. gara-gara kemarin dapet hadiah HP Enduro Smart Fren dari lomba pantun dengan tema #lokalplus.

Smart Enduro #lokalplus

Time Line dari Smart Enduro

Akhirnya, setelah vakum beberapa bulan, Abah kerajingan lagi berkompetisi lomba di internet plus makin rajin cari follower. Karena, beberapa perlombaan juga mulai merambah Twitter. Lombanya gampang, hadiahnya gueedeee.. Tapi saingannya juga naujubilee..

Berbeda dengan tahun 2010 kemarin, mainstream hadiah perlombaan sudah bergeser dari netbook ke Ipad! Tambah ngiler Abah mengincarnya :D Karena kalau mau beli sendiri nggak mungkin — sangat nggak mungkin. Harganya bisa 2-3 kali gaji Abah. Satu-satunya jalan ya, melalui perlombaan yang rutin digelar di dunia maya. Tinggal masalah kreativitas dan nasib saja..

Oya, sebenarnya kalo kita mau menseriusi setiap hal, dalam hal ini lomba di internet, pasti ada jalan untuk memenangkannya. Abah sendiri sudah beberapa kali memenangkan lomba di internet, baik sifatnya kompetisi maupun undian. Ibarat pepatah Arab, man jadda wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh ia akan mendapatkannya.

Hadiah yang pernah Abah menangi

Hadiah yang pernah Abah menangi

Jadi berburu lomba di internet, sah-sah saja. Tidak ada yang mengharamkannya. Asal, konten lombanya sehat tidak menjurus ke barang/perbuatan ilegal. Termasuk lihat kiri kanan, siapa yang menjadi sponsor. Abah menjaga benar kalau sponsornya dari minuman keras dan rokok, Abah nggak akan ikutan!

Nah, kalau mau menseriusi bantulah ia dengan amalan pengundang rizki. Seperti Shalat Dhuha dan sedekah! Insya Allah, pahala dapet, hadiah datang.. Kalaupun belum menang, coba lagi. Toh, gratis juga ikut lomba-lomba tersebut.

Salam hangat dan jangan lupa follow Abah ya di @pakdezaki

Abah termasuk salah seorang yang memanfaatkan sepeda motor sebagai sarana transportasi. Total jarak tempuh kurang lebih 30 km per hari. Pergi – pulang kantor. Dengan jarak yang cukup jauh tersebut, wajar bila kemudian 1/8 dari waktu kerja Abah, habis untuk di jalan.

Bukan itu saja, karena cukup lama berada di jalan, Abah kurang lebih paham dengan sifat dan tingkah laku para pengguna jalan. Dan yang paling menonjol adalah sifat selalu merasa benar. Siapapun dia, mulai dari pejalan kaki, pesepeda, biker, bis kota hingga hingga mobil pribadi.

Contoh sederhana bisa dimulai dari Abah sendiri. Ketika lagi ingin berkendara secara santai, dan tiba-tiba kendaraan yang ada di belakang, tak hentinya memencet bel ingin mendahului. Tak urung Abah sedikit menghardik, “Oi, sabar.. Pecak paling ngebut dewek..”. Walau ngedumel, Abah tetap berusaha memberi jalan.

Di lain waktu, ketika Abah terburu-buru berangkat ke kantor karena kesiangan atau karena ada apel (biasanya tiap Senin pagi), salip-menyalip terpaksa Abah lakoni. Sisi nafsu Abah langsung berbisik, “Alangke lambatnyo pulo bemotor.. wong nak cepet”. Kalaupun ada yang merasa tak rela dipotong dan melototi, Abah laju saja. Sambil balas melotot via spion. Tentunya setelah jauh darinya.. He-he.. :)
Tak hanya soal salip-menyalip, dalam hal menunggu lampu merah pun, tidak setiap kita sabar untuk menunggu lampu benar-benar hijau. Atau, melonggarkan grip gas saat dari jauh traffic light sudah mulai terlihat kuning. Untuk yang satu ini, Abah paling sering melihatnya. Pelakunya bukan sekedar kelas sepeda motor, bus kota pun kerap kali memberikan contoh kurang ajar.

Suatu saat, pernah Abah berhenti di garis putih lampu merah. Di samping Abah mobil truk dan di belakang ada sepeda motor pula. Tiba-tiba dua buskota tarikan dari arah berlawanan, menerobos lampu merah. Dan ndilala, dari arah kanan abah, meluncur truk fuso karena memang gilirannya.

Saking gilanya, bukannya mengerem, keduanya malah tancap gas berusaha saling mendahului, dan hampir-hampir menyerempet Abah dan motor yang ada di belakang Abah. Akibatnya, truk fuso, dengan terengah-engah mengerem berdecit-decit, mengalah.

Gemas sekali rasanya, ingin sekali Abah terjang badan buskota yang hampir menyerempet Abah tadi. Untung Abah tidak berani. Kalo nggak, bisa habis motor Abah ikut terseret.

Mengapa kita nekat menerobos?

Padahal tidak ada yang bakal memuji tindakan sembrono pengguna jalan seperti itu. Ingin disebut pemberani? Ho-ho.., alih-alih memuji, bahkan hampir seluruh pengguna jalan akan menyumpah-serapah : “Mogolah tebalik!!”, “Mati lah kau..” atau “Nduk-ai, cak melawan nian. Teserempet truk baru tahu raso..”.

Lucunya, ketika sudah terjadi kecelakaan, tanpa dikomando pun seluruh pengguna jalan akan menolongnya..

Ketika kita menjadi pengguna biskota, kita pun sering memaki sepeda motor yang menyalip. Namun, ketika kita naik sepeda motor, berapa kali kita menghardik bis kota yang sembarangan berhenti dan menurunkan penumpang.

Di jalanan kita selalu merasa benar. Kita ingin mendapatkan prioritas didahulukan di jalan. Kita ingin semua salah kita dimaafkan. Tapi, kita membebaskan diri dari belas kasihan, saat orang lain salah. Seolah sedikit saja orang salah, merupakan kesalahan fatal dan takkan puas hati bila tak mengeluarkan kata-kata kotor.

Ahh.. andai kantor, pasar dan mal ada di sebelah rumah, tak perlu Abah menumpak sepeda motor. Tak perlu Abah berjumpa pemandangan tak sehat ini. Mari menjaga hati di jalan, agar tidak perlu selalu merasa benar. Kembali ke nasihat lama, Biar lambat asal selamat..

Akur?

SIM Abah habis pas tanggal hari lahir Abah, 2 Mei yang lalu. Dengan demikian, SIM Abah turun derajat menjadi SIM mati. Karena Abah termasuk orang yang lurus-lurus saja, jadi merasa was-was bila membawa SIM mati walau baru terlewat beberapa hari saja.

Apalagi, hari Kamis (5/5) ada isu razia besar-besaran, tambah keder Abah. Alhasil hari itu Abah ngompreng naik angkot, karena takut ditilang kalo-kalo terkena razia. Bisa ditebak, ongkosnya membengkak, hingga tembus Rp15.000 sehari! Berbeda bila menggunakan sepeda motor, yang hanya Rp4.000 saja untuk isi bensin. Yah, resikolah. Hitung-hitung belajar naek transmusi, yang seumur-umur belum pernah Abah manfaatin.

Alhasil Abah pun mulai mencari-cari informasi berapa kira-kira tarif buat SIM ataupun perpanjangannya. Kalo mo ngurus perpanjangan di Banyuasin, harus minta surat mutasi dari Polres MUBA. Katanya sih, biayanya bakal sama dengan biaya buat SIM baru!

Trus, Abah nanya sama adik Abah yang kerja di Banyuasin, ia kebetulan baru saja buat SIM. Katanya biaya Rp350.000! Beuhh.. mahal amir. Padahal Abah buat SIM pertama kali di MUBA, nggak sampe Rp250.000.

Opsi Kedua

Daripada buat baru di Banyuasin, yang harganya mahal. Lebih baik Abah mengurus perpanjangan di MUBA saja, mungkin bisa lebih murah dari Rp 150.000. Kebetulan KTP MUBA masih aktif.

Okelah, hari Sabtu (7/5) Abah mudik ke Sekayu, MUBA. Sekalian bawa anak dan istri untuk silaturahim dengan Mbah Ti dan Mbah Kung. Dan baru Senin (9/5), Abah bisa mengalokasikan waktu mengurus perpanjangan SIM di Polres MUBA.

Pemandangan pertama yang Abah lihat, sudah ada beberapa orang yang sudah menunggu. Abah datang pukul 08.45. Jadi masih sepi. Loket Baur (Badan Urusan) SIM juga masih tutup.

Pelayanan Uji SIM
Pelayanan Uji SIM

Abah duduk di samping Polwan yang tengah berbincang dengan salah seorang warga juga yang tengah menunggu loket SIM buka. Mata Abah menyapu seluruh dinding yang ada di ruang tunggu. Banyak sekali poster dan slogan tentang anti korupsi, anti suap, prosedur pengurusan SIM hingga tarif pembuatan dan perpanjangan SIM. Abah coba perhatikan benar-benar tarif yang terpampang, tarif perpanjangan SIM C Rp85.000.

Tarif Pembuatan SIM
Tarif resmi pembuatan dan perpanjangan SIM
Cerita tentang SIM
Pasal Suap
Lama pengurusan SIM
SOP waktu pengurusan SIM

Abah tersenyum simpul, lip service kah?

Soalnya dulu, poster dan himbauan yang sama juga sudah terpasang saat Abah membuat SIM untuk pertama kali. Nyatanya, Abah lancar jaya membuat SIM baru tanpa harus melewati satu jenis tes pun!

Namun, tampaknya tahun ini Abah merasakan hal yang berbeda. Saat kemudian Abah mendaftar, tampak beberapa bapak-bapak digiring masuk ke ruangan tes teori dan segera melaksanakan tes tertulis.

Ruang Ujian Tes
Ruang Ujian Tes Tertulis

Juga ada beberapa bapak-bapak lain yang misuh-misuh karena kurang syarat. Tidak bawa foto, tidak bawa KTP asli, bawa KTP yang sudah mati dan sebagainya. “Ai caknye, aku dak usah buat SIM. Pecak sego nia syarat-syaratnye..”, seorang Bapak ngedumel keluar dari ruangan pendaftaran karena kurang lengkap persyaratan.

Abah juga dibuat repot, karena kecele tidak bawa pasfoto. Seingat Abah dulu juga saat buat pertama kali tidak menggunakan pasfoto. Setelah meminta surat keterangan sehat dari dokter (seharga Rp25.000) yang buka praktek tak jauh dari Polres MUBA, Abah langsung mencari studio foto terdekat. Rupanya paling cepat, baru bisa jadi pukul 11.00 siang. Itupun biayanya mahal, Rp 30.000 untuk empat lembar pasfoto!

Ya sudah, dengan naik ojek, Abah pulang ke rumah dulu. Berharap Kuyung Ani menyimpan pasfoto Abah. Dibantu Ibu, Abah berhasil menemukan foto Abah setelah mengubek-ngubek laci dan meja kerja Kuyung Ani. Setelah itu, dengan kembali menumpang ojek Abah balik ke kantor Polisi.

Setelah melengkapi formulir pendaftaran, dan berkas-berkasnya : fotokopi KTP, fotokopi SIM, SIM asli, form pembayaran Bank BRI, pasfoto 3×4 sebanyak dua lembar serta map, Abah duduk manis lagi menunggu giliran proses terakhir. Yakni, foto, sidik jari dan tanda tangan.

Seluruh proses sebenarnya tidak rumit, asalkan kita tahu persyaratannya dan sudah mempersiapkan sebelumnya. Sambil menunggu Abah celingukan melihat ke dalam ruangan tes tertulis. Dari mereka yang sudah tes, didapat cerita bahwa ada 30 soal yang harus dijawab, dan minimal 18 soal yang harus benar. Jika kurang, maka dinyatakan tidak lulus dan baru bisa mengulang 1 - 2 minggu kemudian.

Suasana ujian teori pembuatan SIM
Petugas tengah mengoreksi jawaban di depan peserta ujian tes SIM

Paling tidak ada lima orang yang Abah lihat tidak lulus tes. Bahkan satu di antaranya seorang bapak yang sudah tua berpakaian hansip PNS. Ia juga tidak lulus. Salah seorang dari mereka yang katanya datang dari Dusun Lalan (kurang lebih enam jam dari Kota Sekayu) dongkol dan mencoba melobi ke dalam ruangan untuk meminta ‘jalur cepat’. Alhasil, ditolak mentah-mentah!

Dalam posisi seperti ini, Abah bersyukur karena sistem sudah kembali bersih. Mudah-mudahan persyaratan yang ada tidak dibuat untuk mempersulit. Melainkan benar-benar untuk menegakkan aturan main. Dan, tidak fair juga bila semua kesalahan kita timpakan kepada Polisi. Masyarakat yang tidak melengkapi  syarat serta tidak ingin melewati tahapan-tahapan resmi yang ada, itulah yang sering membuat Polisi jadi bertindak korup.

Tidak mau disidang, akhirnya membayar Polisi di jalan. Tidak mau repot mengurus SIM, akhir menembak. Jadi sistem yang korup juga karena ada permintaan dari masyarakat. Ibarat hukum demand (permintaan) dalam dunia ekonomi.

Tak lama, nama Abah dipanggil masuk ruangan. Disuruh tanda tangan, cap sidik jari di alat pemindai elektronis, lalu duduk u
ntuk difoto. Tak sampai satu menit, SIM pun jadi. Ringkas bukan?

SIM Abah yang baru
SIM abah yang baru

Bayangan kotornya sistem perpanjangan SIM akhirnya sirna begitu saja dari benak Abah. Salut untuk Kapolres MUBA yang berhasil menerapkan sistem pembuatan SIM yang bersih dan bebas ‘jalur cepat’ ! Semoga daerah lain bisa mencontoh, agar Kepolisian RI bebas dari suap dan korupsi!

Di satu kesempatan, Abah pernah mewawancarai salah seorang mustahik (dhuafa) yang mendapat bantuan parcel susu dan makanan bergizi dari kantor.

Namanya Rusma, umur baru 24 tahun. Sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci dengan penghasilan tak lebih dari Rp 5000 per hari. Suaminya saat ini masih mendekam di panjara dan baru keluar sekitar dua tahun lagi. Punya anak tiga orang yang harus ia urus sendiri. Permasalahan muncul, saat anaknya yang bungsu divonis bocor jantung dan harus dioperasi ke Jakarta.

Dengan perekonomian yang cukup sulit, tentunya vonis di atas akan semakin menambah susah kehidupannya sebagai seorang warga marginal, terpinggirkan. Apalagi, sebelum bisa dioperasi ke Jakarta, sang anak tadi harus menaikkan berat badannya dulu menjadi 15 kilo. Sedangkan sekarang beratnya baru ada sekitar 8 kg. Bagaimana caranya?

Masih untung di Sumsel, seluruh masyarakat miskin dapat menikmati fasilitas kesehatan menggunakan asuransi kesehatan yang ditanggung oleh pemerintah, Jamkesmas/Jamsoskes/Muba Semesta. Dan semuanya gratis, dengan satu syarat harus sabar mengurus administrasi serta rujukan yang terkadang untuk mengurusnya, dibutuhkan satu hari jam kerja.

Begitu pula apa yang dirasakan oleh Rusma. Untuk dapat berobat gratis memeriksakan anaknya di Rumah Sakit Umum Moehammad Hoesin (RSMH) Palembang, ia harus mengurus surat keterangan tidak mampu dari Kelurahan, meminta surat rujukan dari Puskesmas di mana ia tinggal, lalu ke RS Siti Khadijah untuk meminta surat rujukan lagi, baru boleh mengantri di bagian loket yang antriannya pun bisa menghabiskan waktu tunggu hingga seperlima hari jam kerja.

Bukan sekedar urusan birokrasinya yang juga panjang. Jarak antar tempat pengurusan rujukan pun sedemikian jauh. Dan tentu saja ini berdampak kepada ongkos transportasi yang tidak sedikit. Paling tidak seorang Rusma, harus menghabiskan sekitar Rp 20.000 sehari pengurusan untuk ongkos saja. Menurut penuturannya, dari upah Rp5000 yang ia terima dari mencuci pakaian dengan ayuk iparnya, ia sisihkan seribu rupiah untuk keperluan ongkos transpor kontrol anaknya ke rumah sakit yang rutin dua minggu sekali. Dan dengan uang sisanya itu ia memberi makan ketiga anaknya.

Habis mewawancarainya, Abah sering termangu. Abah bisa merasakan ketidaknyamanannya berhubungan dengan sistem birokrasi. Tapi mau bagaimana lagi, begitulah syarat yang harus ia jalankan untuk mendapatkan biaya pengobatan gratis. Gratis dan bahasa uang. Mau gratis harus repot! Tidak mau repot, pakai uang!

Semua urusan yang berurusan dengan birokrasi pemerintahan dari struktur terkecil hingga yang besar semua membutuhkan kesabaran. Bahkan sekedar untuk mengurus kewajiban dasar kita sebagai warga negara (KTP, SIM, KK) sesuai prosedur pun kita tak bisa berbuat banyak selain menunggu. Kecuali sekali lagi bila kita menggunakan adagium Gratis dan bahasa uang tadi. Mau selesai, harus sabar! Tidak mau sabar, harus bayar!

Salam

Memantaskan diri

April 27, 2011 | | 8 Comments

Suatu hari, Abah pernah chatting dengan seorang teman kuliah yang sekarang tengah bekerja di salah satu perusahaan multinasional yang berpusat di Singapura. Iseng, Abah menanyakan gajinya. Abah sempat terhenyak, gajinya sebagai seorang engineer sebesar 7 juta rupiah!

Abah sempat minder, sebagai sama-sama alumni teknik, gaji abah bahkan setengah pun tak nyampe dibanding gajinya. Masih kepala 2. :D itupun saat masih bekerja di dua tempat, DSIM dan Beritapagi.

Tapi, dasar Abah, nggak mau kelihatan tengsin, sebelum kasih tahu dia berapa gaji Abah, Abah bilang, “Jangan minder dengan gaji saya ya..” Dia makin penasaran, Abah sebut bilangan sekitar 2 jutaan, Ucapannya malah membesarkah hati Abah. “Gaji segitu, sangat besar Pan untuk ukuran di Palembang. Sedangkan aku tinggal di Batam, tau dewek kan makmano biaya idup di sano..

Abah jadi ge-er. Sekaligus bersyukur. Entah jawabannya tadi berupaya menghibur Abah saja, atau memang kenyataannya seperti itu.

Lain waktu Abah juga pernah disambangi oleh seorang rekan yang “pengangguran” di dunia nyata, namun jutawan di internet. Saat ini penghasilannya berkisar $100 per hari. Atau sekitar Rp 900.000 per hari.  Padahal sebelumnya ia adalah lulusan STAN, dan semestinya sekarang ia bekerja sebagai PNS. Namun dengan kesadaran diri, ia mengundurkan diri dan lebih memilih fokus kepada internet marketing.

* * *

Terus terang, semuanya menyilaukan mata dunia Abah. Gaji  jutaan siapa yang tidak ingin? Dengan semakin banyaknya tuntutan kebutuhan domestik rumah tangga dan keinginan untuk hidup lebih sejahtera, maka mau tak mau perlu banyak uang untuk mewujudkannya. (Abah matre mode On :D)

Tapi ada satu hal yang menjadikan pelajaran penting dari semuanya : Ini tentang memantaskan diri!

Teman abah pertama tadi, memang sejak kuliah sudah fokus untuk bekerja di dunia engineering. Di saat Abah lebih suka mampir ke bagian koran dan majalah, ia betah berlama-lama nongkrong di rak bagian teknik yang seluruh bukunya berbahasa Londo. Walau kami sama-sama ke perpustakaan.

Di saat teman-teman begitu serius mengikuti kursus teknik dan TOEFL, di ambang kelulusan, Abah malah sibuk mengurusi penerbitan berbagai majalah dan buletin kampus. Dan di saat teman-teman mulai terbiasa membaca jurnal ilmiah berbahasa Inggris ortodok, Abah mulai terbiasa dengan deadline dan karikatur.

Begitulah, terkadang apa yang sedang kita jalani sekarang, merupakan buah dari pemantasan diri kita sebelumnya. Lihatlah Abah, sejak bekerja di media, maka pekerjaan-pekerjaan selanjutnya tak jauh dari media. Begitupun teman-teman Abah, tak jauh dari pemantasan diri saat pertama kali bekerja.

Abah menyesal? Tidak!

Karena Abah telah memantaskan diri di bidang media ini bertahun-tahun lamanya. Bahkan sejak masih bercelana abu-abu (SMA), Abah sudah bergabung dengan salah satu koran lokal. Dan dari sana, seolah dunia media tak jauh dari Abah.

Bagaimana dengan teman-teman semua? Semoga telah berhasil memantaskan diri sesuai dengan minat dan pendidikan masing-masing.

Episode 4 : Tafakur

Keesokan harinya, semua berkas Abah ajukan ke pihak RSMH. Dan alhamdulillah diapprove, walaupun tidak Abah sertakan semua surat rujukan (Puskesmas, RS Banyuasin dan Dinkes). Karena, menurut ayuk ipar kemaren, cukup dengan copy KK, KTP dan Surat Keterangan Tak Mampu dari Kelurahan saja. Karena Abah sudah masuk duluan lewat UGD.

Segera setelah selesai urusan administrasi, Abah bergegas berkemas. Karena, salah satu pasien yang tidak kebagian dipan, selama ini masih di atas ranjang dorong, sudah ngecup dipan istri. Pukul 10.15, Abah sekeluarga meninggalkan RSMH.

Usai sudah ‘kisah indah’ selama istri sakit. Walaupun sangat capek dan lelah, tapi Abah mampu mengakhirinya dengan happy ending. Istri bisa keluar dari rumah sakit tanpa membayar uang sepeser pun.

Dan inilah secuil hikmah yang bisa Abah ambil dari ribuan pelajaran selama rumah sakit :

Paling Utama, betapa berartinya keluarga. Abah sudah merasakannya, bahkan sekedar untuk memegangkan anak itupun sudah sangat banyak membantu. Pesan Abah, bila dapat musibah, jangat takut (bakal merepotkan mereka) segera kabarkan mereka. Tangan kita cuma dua..

Kedua, nikmatnya sehat. Asli, Abah tidak hendak berbasa-basi. Kadang Abah mendengar ada yang bilang keguguran, tapi tak merasa apa-apa. Tapi ternyata setelah mengalaminya, perkara keguguran bukanlah perkara ringan. Ada proses pendarahan yang cukup membuat istri menderita. Bahkan lebih menderita daripada melahirkan. Ada proses kuret yang mengharuskan istri ‘dioperasi’. Ada proses penyadaran yang bikin khawatir, seperti istri akan pergi…

Ketiga, Wanita itu unik. Dengan segala aksen keindahan dan pesona keduniaan yang ada padanya, banyak sekali anatomi rumit yang susah sekali dimengerti oleh kaum Adam, termasuk Abah. Baik, fisik, psikis maupun aspek emosionalnya.

Empat, betapa mulianya profesi dokter. Dulu, sewaktu masih bekerja di harian Beritapagi, Abah sering menginsyafi diri bahwa pekerjaan hingga dini hari, bukanlah pekerjaan yang normal. Nyatanya, di sini seluruh dokter dan perawat serta pihak staf Rumah Sakit, pasti mengalami siklus bekerja di malam hari. Dan mereka telah melakukannya bertahun-tahun, di tengah kondisi kritis pasien dan gerutuan tak puas dari keluarga pasien.

Lima, betapa berartinya tabungan. Apalagi ada asuransi sendiri. Entah Askes atau Jamsostek. Sebagai bekal dan dana persiapan untuk hal-hal yang tidak terduga, seperti sakit atau kebutuhan lain yang mendesak. Beruntung, pemerintah provinsi dan kabupaten di Sumsel, sudah dijamin oleh Jamkesmas/Jamsoskes. Walau bila memilih yang terakhir, karena keadaan yang memaksa, harus siap-siap dengan segala persyaratan administrasi dan izzah yang tergadai.. :D
Enam, betapa tidak enaknya menjadi orang tidak mampu. Dari sekian pasien yang berada dalam satu zaal di kelas III Ruang Kebidanan dan Penyakit Kandungan yang istri Abah tempati, seluruhnya menggunakan fasilitas tidak mampu. Dan hampir keseluruhan keluarga yang mengurus asuransi miskin tersebut, harus berhadapan dengan panjangnya birokrasi pengurusan surat rujukan. Padahal rata-rata mereka berdomisili di luar kota Palembang.

Tujuh, bertanyalah pada pihak yang resmi. Jangan terjebak oleh calo, tempat semulia RS pun masih berkeliaran calo. Entah calo darah yang selalu bertengger di PMI, calo informasi yang berlagak membantu tapi minta bayaran. Yang lebih parah lagi, di RS pun sepeda motor yang menginap pun bisa diintai oleh pencoleng. Fakta yang Abah temukan, ada satu gergaji besi dan gembok yang sudah terpotong tergeletak di parkirannya. Entah apa yang terjadi dengan sepeda motornya.

Delapan, terima kasih pemerintah untuk fasilitas askes untuk orang tak mampu-nya. Sangat membantu. Abah tidak tahu apa ada motif tersembunyi di baliknya. Terima kasih…

Masih banyak hikmah lain yang tak sempat abah ungkap dalam tulisan ini. Namun mudah-mudahan yang sedikit ini bisa memberi tambahan pencerahan kepada teman-teman semua.

(Selesai)

Episode 3 : Mengurus Rujukan

Berkas Jamsoskes
Alhamdulillah, pagi menjelang. Istri sudah pulih penuh kesadarannya. Separuh sarapan sudah bisa ia habiskan sendiri tanpa disuapi. Ketika rombongan dokter tiba, ia dinyatakan sudah boleh pulang. Deuh Abah senang sekali..

Tapi pertanyaan selanjutnya bagaimana mengurus prosedur kepulangannya?

Abah celingukan keluar-masuk kamar perawatan, bingung mau bertanya pada siapa. Abah belum mandi, belum gosok gigi. Jadi nggak pede nanya dengan perawat jaga. Sampai kemudian datang seorang ibu-ibu pegawai administratif (non-medis) yang mengusir seluruh keluarga pasien dari ruangan, disterilisasi karena dokter akan mengadakan pemeriksaan secara massal ke pasien-pasien yang ada di ruangan tersebut.

Maka berhamburanlah para keluarga pasien tadi keluar ruangan, termasuk Abah salah satunya. Duduk di selasar rumah sakit, ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Ternyata hampir keseluruhan dari mereka berobat dengan menggunakan jaminan Jamsoskes atau Jamkesmas.

Oiya, Abah ini dari semula masuk RSMH kemarin, sudah bingung mau bayar keseluruhan biaya pakai apa. Sewaktu ngurus kamar di bagian depan, abah bingung ketika ditanya, cara bayarnya bagaimana. Apakah umum/swasta (artinya bayar sendiri), apakah ada askes yang menanggung (Askes/Jamsostek) atau kategori tidak mampu bayar.

Abah jawab saja, swasta alias bayar sendiri. Pertimbangan kala itu, mau bilang Askes, kantor tidak menanggung, mau bilang tidak mampu, gengsi (mulanya :D)

Seiring waktu, Abah jadi menyesali keputusan Abah. Dan ujungnya abah terkesan plin-plan, waktu ngurus PMI Abah bilang Jamkesmas, waktu ditanya dokter jaga, bilangnya Jamsoskes, pusiiing.. Di saat seperti ini, harus ada yang menguatkan Abah.

Apalagi, di antara keluarga pasien banyak yang mengeluhkan susah dan banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengurus Jamkesmas/Jamsoskes tersebut. Mulai dari KK, KTP, surat pengantar tidak mampu dari Kelurahan dan sebagainya. “Sudahlah, gek aku bayar bae, biayanyo dengan duit aku dewek. Paling jugo biayanyo idak lebih dari 4 juta. Daripada cak susah nian ngurus askeskin ini”, ujar salah seorang keluarga pasien dengan aksen Jawa medok.

Abah Cuma menganguk galau, karena berada dalam posisi yang sama. Pas ngeliat-ngeliat pengumuman di ruang tunggu, tertera banyak sekali persyaratan untuk dapat menikmati layanan Jamsoskes ini, paling tidak ada lima syarat yang kesemuanya harus diurus dari tempat tinggal asal. Lha Abah tinggalnya di Banyuasin?

Deuh, Gusti.. susahnya jadi orang tidak mampu.

Dalam keadaan gamang, ayuk ipar datang. Bukan rantang sarapan bawaannya yang meringankan Abah. Tapi saran darinya yang mampu menguatkan Abah untuk mengurus Jamkesmas/Jamsoskes. Setelah menimbang-nimbang, dan bertukar pikiran, akhirnya Abah segera meluncur ke Banyuasin, guna mengurus rujukan.

Walau begitu bathin ini bolak-balik mempertanyakan keputusan Abah ini.

Abah akan memakai asuransi untuk orang tak mampu alias miskin? Terpaksa! Abah tidak punya tabungan untuk membayar semua biaya perawatan.

Apa tidak berusaha meminjam dulu dengan kerabat atau ke kantor? Tidak! Meminjam berarti berhutang, dan tetap harus dibayar di kemudian hari. Itu artinya bakal memberatkan posisi keuangan keluarga di hari-hari ke depan.

Abah kan bukan Orang Miskin? Ya, tapi dalam posisi sekarang, Abah masuk dalam kategori tidak mampu membayar.

Semoga Allah memaklumi…

Motor Abah melaju, membelah kemacetan jalan yang lagi sibuk-sibuk melebarkan ukurannya demi menyambut Sea Games bulan November nanti. Pikiran Abah satu, semoga semua dimudahkan oleh Allah swt.

Pukul 09.40, Abah tiba di komplek perumahan Abah. Segera Abah belokkan motor ke rumah Pak RT untuk memberi kabar dan langsung meminta surat rujukan. Berhubung dengan Pak RT ini masih dalam ukuran tetangga, ia pun ramah menyambut. Setelah Abah menyebutkan keperluan untuk mengurus surat Jamkesmas, ia pun langsung menyarankan langsung saja ke Kelurahan. Cari yang namanya ini dan anu, bilang, sudah ngadep Pak RT. Ntar kasih saja barang sepuluh ribu, untuk biaya ngetik suratnya. Abah nyengir dalam hati..

Setelah menucapkan permisi, Abah segera pulang. Mo mandi dulu! Malu ah, ngadep ke banyak instansi dengan baju bau dan nggak rapi. Sekalian mulangin baju kotor.

Pukul 10.10, setelah rapi jali, Abah segera meluncur ke kantor Kelurahan. Suasana kantor pagi itu cukup lengang dan sepi. Khas kantor instansi pemerintah kelas kelurahan. Paling tidak ada tujuh meja kecil yang ada di ruangan tamu yang berlantai semen kasar itu. Dua meja lagi sibuk melayani dua orang warga, satu meja ada bapak yang tengah membaca Koran, satu meja lagi seorang pegawai tampak sedang mengerjakan ketikannya.

Abah hampiri bapak tadi, yang lebih tua dibandingkan dengan pegawai yang lain. Abah utarakan hajat Abah, trus ia menunjuk salah seorang staf kelurahan untuk membuatkannya. Abah menunggu di dekat bapak tadi sambil memperhatikan kegiatan dalam ruangan tersebut dan sesekali menimpali omongan bapak itu.

Salah seorang warga tampak telah selesai berurusan dan sambil menyimpan berkas surat yang ia terima dari salah seorang staf, ia selipkan sejumlah uang ke tangan salah seorang pegawai. Salam tempel!

Tak lama seorang pegawai menghampiri abah, menyerahkan surat yang Abah butuhkan di depan Bapak tadi. Berbeda dengan warga tadi yang berhadapan satu-sama-satu, posisi Abah sekarang tidak memungkinkan untuk menarik dompet keluar dan memberikan kepada sang pegawai.

Abah hanya berucap terima kasih terus ngeloyor dari ruangan. ‘Maaf, buru-buru’, bathin Abah dalam hati. Sambil ngelirik apakah ada wajah kecewa karena tidak mendapat salam tempel.

Abah bergegas memacu motor menuju Puskesmas, untuk meminta rujukan. Masih ada rangkaian administratif yang harus Abah lalui setibanya di Puskesmas ini. Mendaftar sambil menyerahkan copy KK, konfirmasi ke bagian arsip untuk mengambil map berobat, terus disuruh ke bagian Poli untuk meminta pengesahan dari dokter jaga, baru kemudian ke bagian umum untuk mendapatkan surat rujukan. Dari sana, disuruh copy KK lagi (Heran deh, dalam kondisi seperti ini copy KK sama KTP laku banget…)

Setelah dapat surat rujukan, disuruh ke RS Banyuasin yang ada di Pangkalan Balai. Tujuannya untuk meminta rujukan lain. Jaraknya kurang lebih limapuluh menit menggunakan sepeda motor. Jarak yang cukup jauh. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kantuk berat menyerang Abah. Beberapa kali Abah terpejam-pejam di atas sepeda motor. Akhirnya, karena sudah tidak tahan, abah berhenti sebentar di pinggir jalan dan beristirahat sambil memejamkan mata di atas speedometer. Trus, setelah kantuknya agak berkurang, Abah melanjutkan perjalanan lagi.

Pukul 12.20, tiba di RS Banyuasin, Pangkalan Balai. Segera menuju ke bagian informasi dan ditunjukkan untuk langsung ke bagian UGD. Dengan membawa secerah keyakinan, semuanya akan selancar urusan di Kelurahan dan Puskesmas, Abah segera menuju ke tempat yang dimaksud.

Ketika sampai di loket dan meminta surat rujukan yang dimaksud, petugasnya malah meminta bukti surat rawat inapnya.

Dueng! Abah tidak bawa! Abah tidak tahu kalau butuh surat itu. Yang Abah tahu apa yang tertempel di dinding bagian informasi RSMH.

Abah kemudian coba meminta kemudahan, bahwa Abah sudah jauh-jauh dari Palembang hanya untuk mengurus surat tersebut. Untuk meyakinkannya, Abah tunjukkan beberapa berkas yang terkait dengan perawatan istri. Tapi hasilnya nihil, si mbak penjaga loket dibantu oleh seorang pegawai lainnya, tetap tidak bisa memproses surat rujukan yang Abah butuhkan itu.

Setelah beberapa kali coba memohon dan sedikit memelas, dan ternyata gagal Abah menyerah. Abah terduduk di dekat parkiran motor. Abah tercenung. Terasa hangat mata ini.

Episode menjadi orang miskin tengah dijalani. Betapa tidak enaknya menjadi orang miskin, menjadi orang tidak mampu. Karena tidak punya uang untuk biaya perawatan, mereka harus mengurus persyaratan berobat gratis. Karenanya, mereka masih harus siap mental dengan tetek bengek persyaratan administrasi yang sebenarnya tidak penting-penting amat.

Bukankah perjalanan untuk mengurus surat-surat ini saja, mereka akan dihadapi dengan jauhnya jarak tempuh, biaya fotokopi, biaya salam tempel, biaya transportasi, belum lagi biaya moral karena harus menerima perlakuan yang merendahkan dan lainnya…

Allah bantulah hambaMu ini…

Abah berat menyeret langkah ke motor, ketika telpon dari adik berdering. Ia menanyakan lagi di mana. Abah jawab lagi di RS Banyuasin, surat rujukan tidak berhasil didapat, karena kurang syarat. Ia bilang tunggu sebentar, ia akan menghubungi teman istrinya yang bekerja sebagai bidan di RS tersebut. Terima kasih, jawab Abah, cukup menghibur.

Abah alihkan pikiran kusut dengan mencari mushalla. Abah belum shalat Zuhur, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Sesudah wudhu, bergegas naik ke lantai dua, di mana terletak Mushalla.

Baru mau menegakkan shalat, tiba-tiba hape berdering. Nomor tidak dikenali. Ketika diangkat, rupanya dari adik ipar. Ia bermaksud mempertemukan Abah dengan teman bidannya tadi. “Mungkin bisa membantu”, ujarnya. Sesuai petunjuk, Abah menemui teman yang ia maksud. Segera Abah sampaikan uneg-uneg Abah tentang sulitnya mendapatkan surat rujukan. Sesaat kemudian ia masuk lagi ke gedung RS dan bermaksud menemui salah seorang dokter kandungan, teman kerjanya.

Abah permisi juga untuk segera menunaikan shalat Zuhur. Setelah itu Abah kembali ke parkiran, dan ternyata ia sudah menunggu di sana. Ia bilang dokter temannya itu bisa memberikan surat rujukan, tapi kemungkinan masih akan membutuhkan surat rujukan pula dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin.

Oalah.. pikir Abah. Kapan semua akan selesai.. Ya sudah, kata Abah, yang penting surat rujukannya keluar dulu. Urusan ke Dinkesnya nanti saja, lagian hari sudah menunjukkan pukul 14.30. Setelah menanyakan Nama dan Umur istri Abah, ia kembali segera masuk ke ruangan dan kembali membawa surat rujukan dari dokter. Alhamdulillah, Abah lega sekali…

I believe this is the invisible hands of God.

Setelah mengucapkan banyak terima kasih, Abah segera meluncurkan motor ke arah Palembang. Untuk segera menyelesaikan persyaratan administratif lainnya. Telpon dari ayuk ipar yang menjagai istri Abah, mengatakan ia mau pulang.

(Bersambung)

Episode 2 : ‘Operasi’ dimulai

Masuk ke ruang UGD, para perawat dan dokter jaga semuanya siaga menyambut istri yang tegak berjalan saja sudah tidak bisa lurus lagi. Bayangan ketakutan akan terlantar seperti kebanyakan berita di tipi, tidak ada. Istri segera dibawa ke ruangan kebidanan untuk diperiksa awal. Tidak pake antri. Episode repot segera dimulai.

Setelah istri masuk ke dalam ruangan, tinggal Abah sendirian yang harus mengurus segala keperluan sambil menggendong Nayla kemana-mana. Mulai dari mengantarkan contoh urine dan darah ke bagian Lab, mengambil obat, memesan kamar karena harus rawat inap, membeli obat di luar RS di tengah hujan yang tiba-tiba menderas, mengecek sample darah ke PMI, kembali lagi ke Lab untuk mengetes Hb darah dan sebagainya.

Hampir semuanya abah lakukan sendirian sambil menggendong Nayla di depan dan tas ransel di belakang. Perlu dicatat, karena Abah tidak hapal posisi ruangan yang dimaksud, Abah musti beberapa kali turun naik tangga untuk mencarinya. Jujur, kaki abah pegal sekali. Rasanya telapak kaki keseleo… Nayla sampai sedih, dan mulai merengek karena ikut-ikutan capek dan tegang, atau mungkin karena melihat Abahnya bercucuran keringat. Abah juga mulai merasakan betapa berartinya saudara di saat seperti ini, walau sekedar memegang Nayla. Biar Abah saja yang berlari kesana ke mari. Sambil terengah, Abah pun menelpon keluarga istri di Perumnas dan adik kandung Abah di Tanjung Barangan.

Tak lama, walaupun hujan deras, mereka datang. Air mata abah mengalir, haru melihat mereka datang. Allah, betapa berharganya seorang saudara di sini… Abah sempat terduduk sembari istirahat sebentar. Sambil mengusap mata kaki yang terasa sakit, “Allah akhirnya sampai juga giliran saya berurusan dengan rumah sakit.”

Sebelumnya Abah memang pernah juga mengurusi orangtua Abah, ketika hendak operasi katarak di RS Sekayu. Abah juga yang tanda tangan persetujuan operasi saat itu dan turut tidur di RS. Tapi, sekarang rasanya berbeda. Perasaan tanggungjawabnya lebih besar. Mungkin karena yang sakit, istri Abah. Atau mungkin juga karena ada bayangan mengenai biaya perawatannya nanti.

Kalo dulu yang nanggung biaya operasi katarak itu kakak Abah, saat ini Abah yang murni menanggungnya. “Kami tangani dulu operasi yang terbaik, soal biaya nanti kita pikirkan lagi.”, salah seorang dokter berujar kepada abah. Nayla kemudian dipegang oleh Bak (Ayah mertua), sedangkan tas dijaga oleh adik. Itupun, rasanya sudah sangat menolong. Abah dapat segera melesat gesit mengurus kebutuhan pengobatan istri dan administrasi. Semakin malam, hujan semakin deras.

Pukul 22.00, istri dibawa ke ruangan operasi. Tindakan kuret akan segera dilakukan. Abah peluk erat Nayla yang sudah mulai tenang. Seolah tidak peduli dengan suasana sekitar, ia asyik bermain sendiri dengan selimutnya yang ia bentangkan di kursi besi ruang tunggu. Udara yang dingin mengigit seolah tak terasa olehnya. Abah sebisa mungkin, memberikan kehangatan kepadanya di sela kantuk yang menyergap mata dan capek luar biasa yang membelenggu kaki. Biasanya ia sudah tertidur sejak pukul 20.00. “Engkau harus kuat ya nak, doakan Ummi selamat..”, suara Abah tercekat.

Sekitar pukul 00.00 wib, Abah dipanggil masuk ruangan oleh dokter perempuan untuk menandatangani serah terima pasien. Bahwa pasien telah selesai dioperasi dan diserahkan ke pihak keluarga. Sedangkan istri Abah, belum keluar. “Masih di ruangan untuk penyadaran dulu”, jawab dokter. Si dokter juga menyerahkan daging hasil kuret yang dimasukkan ke dalam botol plastic untuk diperiksa dibagian Patologi dan Anotomi (PA) keesokan harinya.

Pukul 00.30, istri keluar dari ruangan operasi dan dibawa ke kamar perawatan. Ketakutan segera menyergap Abah, karena sejak dibawa keluar ruang operasi tadi, mulutnya tak henti-henti mengucapkan syahadat berulang-ulang. “Allah, apakah istriku akan segera pergi?”, hati Abah pilu melihat wajahnya yang pucat, matanya terbuka sedikit. Pias sekali.. Terawangannya seperti ia berada di dunia yang lain.

Sesampainya di ruangan perawatan, ia diam. Tapi matanya masih terbuka. Botol infuse segera dipasang oleh perawat yang sedang jaga di zaal Kebidanan dan Kandungan, Kelas III. Satu ruangan tadi diisi bersama sepuluh orang pasien.

Abah coba menjaga ketersadarannya, Abah bisikkan kalimat-kalimat thayyibah di telinganya. “Ummi ado di mano Bi?”, “Ngapo wong jadi aneh galo?”, “Ngapo Ruri (adik Abah) mukonyo lonjong mirip alien?”, “Ummi tadi ngapoi Bi?”, “Ummi ini lagi ngedep kemano, Bi?”, dan sederetan pertanyaan nglenatur lainnya mengalir dari bibirnya yang hamper tidak bergetar sama sekali. Abah paham, karena istri tengah keluar dari fase bius. Sehingga, orientasi ruang dan kesadarannya terganggu. Abah coba menjawab semua pertanyaannya dengan lemah lembut, setengah berbisik di telinganya.

Pukul 1.15, adik ipar datang lagi setelah tadi mengantar Bak (mertua) dan Nayla pulang. Kali ini ia bersamaAlvin(sepupunya yang berdarah golongan sama dengan istri). Tadi ayuk ipar berulang kali menelpon apakah dibutuhkan donor darah lagi pasca operasi. Karena perkiraan butuh dua kantong, maka dua donor sudah disediakan, yakni Ruri dan Alvin tadi. Sedangkan Nayla diantar pulang ke Perumnas, kasihan bila harus ikut bergadang di RS. Padahal ia tidak pernah tidur pisah dari Abi dan Umminya.

Menjelang pukul 02.00 Abah tersadar belum shalat Isya, sedang istri malah belum shalat Maghrib dan Isya. Abah segera ke Mushala dan shalat, sedang istri ditunggui oleh Tole, adik ipar. Selanjutnya, Abah sadarkan istri untuk menjamak-qashar shalat dengan kondisi darurat. Abah tuntun bacaan-bacaan shalat di telinganya. Semua tidak memungkinkan baginya untuk shalat secara normal dengan menggerakkan badan. Biarlah isyarat hati dan matanya saja yang menunjukkan bahwa ia shalat.

Allahu akbar…

Abah terpekur. Episode shalat darurat pun tengah Abah jalani. Maha besar Allah yang telah memudahkan bagi hambanya untuk tetap dapat beribadah dalam kondisi apapun.. Pukul 03.00, mata Abah menanggung kantuk yang berat. Abah meringkuk di bawah dipan rumah sakit. Tole danAlvinpermisi pulang, karena sepertinya tidak dibutuhkan transfuse darah. Abah berusaha tidur di atas selimut Nayla yang lembab terkena tumpahan air minum dan jaket. Abah agak tenang, karena istri Abah sudah sadar tadi dan sempat dicandai Tole sebelum pulang tadi. Abah coba memejamkan mata. (Bersambung)

Episode 1

Istri Abah baru keluar dari RS, hari Selasa (12/4) lalu. Selama dua malam ia opname disana. Istri abah keguguran di kehamilan keduanya yang berusia 11 minggu dan terpaksa harus dikuret.

Abah sedih bila harus mengingat semuanya. :(
Ceritanya, dimulai sejak hari Jumat (8/4), istri sudah mengalami vlek kedua sejak ia diketahui hamil lagi. Esoknya, vlek berubah jadi bercak darah. Tidak banyak cuma sedikit. Abah kemudian membawanya ke Puskesmas untuk diperiksa, dan membatalkan ikut pelatihan hari itu.

Oleh dokter puskes, istri disarankan untuk total bed rest, istirahat saja. Dan dianjurkan untuk datang kembali di hari Senin untuk menjalani tes Urine dan Hb. Nasihatnya, tanda-tanda yang dialami istri, menunjukkan tanda-tanda keguguran. “Kalau memang janinnya bisa kita pertahankan, kita usahakan”, ujar dokter itu menenangkan.

Dan hari itu, Abah bener-bener nggak ke mana-mana. Namun, walau begitu istri tetap saja masak pada hari itu. Maklum, Abah boleh diperintah mengerjakan apa saja asal jangan diminta tolong untuk masak. Hands Up!

Hari Ahad, darah yang keluar makin deras. Malah istri menyangka, itu darah haid. Kami pun keluar cari klinik yang bisa melayani urusan kandungan. Mulailah petualangan ‘panjang’ mencari klinik yang buka di hari Ahad, dan akhirnya melanggar pantangan dokter untuk total bed rest.

Karena pada kenyataannya, hari Ahad banyak klinik dan rumah bersalin yang tutup. Akhirnya, mampir ke rumah Mak di Perumnas. Disana, sebagaimana istri bilang, darahnya tetap mengalir deras selayaknya orang haidh. Namun, belum ada keluhan berarti, misal demam atau nyeri hebat. Belum ada.

Sorenya, baru abah sekeluarga pulang ke rumah, lewat jalan pintas, yang berjarak kurang lebih 20 km. Nah, mungkin perjalanan cukup lama di atas motor tadi dan beberapa kali melanggar polisi tidur, istri merasa semakin deras saja darah yang keluar dan dimulailah episode baru : Nyeri tak tertahankan bak mau melahirkan!

Sampai di rumah, sekitar pukul 5 sore. Istri masih sempat mengeluarkan jemuran pakaian, untuk mengejar panas sore dan mencuci perangkat masak. Masuk maghrib, barulah nyeri hebat yang kedua datang.

Istri tak sanggup lagi berdiri, bahkan untuk sekedar shalat Maghrib sambil duduk pun ia tak sanggup. Abah kaget, bingung, mau ngapain.

Apalagi ada Nayla yang harus Abah urus juga. Setelah sedikit makan malam sembari menyuapi Nayla, Abah segera hantarkan istri ke Bidan terdekat.

Waktu itu nyerinya makin hebat! Dan di atas motor, pegangan istri lebih berupa cengkeraman di pinggang dibanding pegangan biasa. Abah makin panik!

Sesampai di tempat bidan, Abah disarankan langsung saja ke bagian UGD RS Mohammad HoesinPalembang. Urusan surat-menyurat rujukan, belakangan saja diurusnya. Yang penting bawa dulu KTP sama KK.

Kami pun pulang dulu ke rumah. Bawa baju dan pakaian secukupnya. Untuk ‘persalinan’ istri, dan untuk Nayla juga.

Satu pikiran yang ada saat itu, “Ya Allah, saya tidak pernah berhubungan dengan Rumah Sakit. Bagaimana nanti bila urusan jadi sulit?” Sedangkan RSMH terletak kurang lebih 14 km dari rumah, harus ditempuh bersepeda motor bertiga pula!

Pikiran negatif untuk menunda pergi, karena bimbang dan takut sedikit mengusik. Namun, kondisi istri yang kritis dan sangat kesakitan, memaksa Abah membuat keputusan : Pokoknya harus segera sampai di rumah sakit!

Perjalanan panjang dari rumah ke RSMH, dimudahkan oleh Allah. Tidak ada macet di jalan kecuali lampu merah. Walau jalan memungkinkan, tapi Abah berusaha untuk tidak menarik gas kuat-kuat, secukupnya saja. Khawatir nanti malah terjadi apa-apa. Nayla yang masih kecil (2.5 tahun), sesekali merengek di motor, entah bosan entah mungkin capek karena seharian ini ia sudah berada di atas motor.

Tiba di RSMH, Abah salah masuk gerbang. Harusnya untuk keluar abah terobos saja, dan saking paniknya ketika tangan penjaga terlambai keluar meminta uang parkir, Abah malah teriak, “Buru-buru mbak, UGD!!” Abah parkir pun di dekat instalasi UGD, bukan di tempat parkir biasa. Mohon kemakluman semuanya deh, soalnya istri abah pendarahan!

Alhamdulillah, satu kelegaan akan segera menyambung kepanikan berikutnya..

(Bersambung)